KESEHATAN MENTAL #

KESEHATAN MENTAL
RINGKASAN BAB VI DINAMIKA KEPRIBADIAN

Gambar

2PA04
KELOMPOK 6 :

DENI FERNANDO 11512828

EKA SURYA SATALINO 12512419

KALBUADI 14512015

TIARA NABILA 17512374

GEMA P.A 13512105

 

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI

 


 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia – Nya kepada saya. Sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu yang berjudul “DINAMIKA KEPRIBADIAN”.

Makalah ini berisi tentang materi Kesehatan Mental. Diharapkan Makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua dan menambah wawasan pengetahuan mengenai mata kuliah Kesehatan Mental.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir semoga karya tulis ini bermanfaat bagi para pembaca.

 

 

 

 

Bogor, 24 Maret 2013
Penulis

(TEAM PENULIS)

i


LATAR BELAKANG

Kesehatan mental merupakan keinginan wajar bagi setiap manusia seutuhnya, tapi tidaklah mudah mendapatkan kesehatan jiwa seperti itu. Perlu pembelajaran tingkah laku, pencegahan yang dimulai secara dini untuk mendapatkan hasil yang dituju oleh manusia. Untuk menelusurinya diperlukan keterbukaan psikis manusia ataupun suatu penelitian secara langsung atau tidak langsung pada manusia yang menderita gangguan jiwa. Pada dasarnya untuk mencapai manusia dalam segala hal diperlukan psikis yang sehat. Sehingga dapat berjalan menurut tujuan manusia itu diciptakan secara normal.

 

Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan antara fungsi – fungsi jiwa, serta kesanggupan untuk menghadapi problem – problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya (Zakiah Daradjat, 1975). Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan dapat dicapai antara lain dengan menjalankan ajaran agama dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, dan moral. Dengan demikian akan tercipta ketenangan batin yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan di dalam dirinya. Definisi ini menunjukkan bahwa fungsi – fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan, harus saling menunjang dan bekerja sama sehingga menciptakan keharmonisan hidup, yang menjauhkan orang dari sifat ragu – ragu dan bimbang, serta terhindar dari rasa gelisah dan konflik batin.

 

Menurut WHO (2008), kesehatan mental adalah suatu keadaan kesejahteraan yang mana tiap individu mampu mengoptimalkan kemampuannya, dapat mengatasi stress dalam hidupnya, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat serta dapat berkontribusi terhadap komunitasnya. Dengan kesehatan mental yang baik, individu akan dapat tampil optimal sesuai kapasitasnya serta produktif, yang pada gilirannya akan menunjang pada terciptanya masyarakat yang maju. Sebaliknya bila kesehatan mental seseorang rendah, orang akan sangat menderita, kualitas hidupnya buruk, bahkan hingga menyebabkan kematian.

 

Adanya motto “ Mens sana in corpora sano” yang merupakan semboyan hidup bangsa romawi terkesan bahwa tubuh yang sehat itu dianggap sebagai suatu presupposisi atau condisi sine Quanom, yang berupa “manusia sempurna”, terkait dua unsur bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Hal ini menunjukkan bahwa jasmani sehat atau sehat dengan mental sehat itu secara relatif dekat dengan integritas jasmani dan rohaniah ideal, yang merupakan pembagian dari dua unsur saja (dichotome) antara tubuh dan jiwa (Suyadi, 2006 : 13).

 

Masalah kesehatan mental sangat penting kaitannya dalam prestasi belajar serta pertumbuhan dan perkembangan gerak seorang anak, karena pada saat itu mereka mempunyai karakteristik mulai kematangan dalam fisik dan fisiologis serta perkembangan dan minat melakukan aktivitas fisik (Suyadi, 2006 : 13). Dalam aktivitasnya sehari-hari seperti di sekolah sepak bola Aldas Prima seorang anak masih memiliki rasa minder, rasa takut keluar keringat, takut salah, hal ini dikarenakan adanya rasa tidak percaya diri. Misalnya ; seorang anak mengetahui bahwa ia tidak boleh menendang bola kegawang lawan karena posisinya yang kurang baik. Akan tetapi karena desakan penonton yang berteriak “tendang, tendang”, maka ia menendang bola ke gawang lawan. Tindakan itu dilakukan hanya untuk mengabulkan dan menggerakkan hati penonton. Dengan demikian dia merasa bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan terhadap penonton. Tanpa “kebaikannya” tersebut mungkin dia akan dicemooh oleh mereka, hal tersebut merupakan kejadian yang sangat ditakuti oleh sianak.


 

DINAMIKA KEPRIBADIAN

Beberapa teori dan prinsip – prinsip motivasi menjadi sangat berarti bagi orang yang mempelajari ilmu keseshatan mental jika dilihat dalam konteks penyesuaian diri dengan urutan sebagai berikut: motivasi – frustrasi dan konflik – tegangan emosi – respons – reduksi tegangan – akibat – akibat. Masyarakat umum berpendapat bahwa semua tingkah laku memilki motivasi, tetapi tidak ada kesepakatan mengenai sifat dan jumlah kekuatan yang menggerakkan tingkah laku. Motivasi disertai dan diikuti oleh frutrasi dan konflik yang mungkin singkat dan tidak berakibat apa – apa atau berlangsung lama dan mengancam. Tegangan selalu mendorong individu untuk mengadakan respons. Jika proses tersebut merupakan respons terkondisi, maka respons itu akan diadakan dengan cepat. Jika suatu penyesuaian diri yang memuaskan individu dilakukan, maka akan terjadi reduksi tegangan. Respons yang mendapat hadiah karena mereduksikan tegangan itu akan menimbulkan akibat – akibat yang penting.

 

MOTIVASI
Motivasi merupakan suatu istilah umum yang mencakup tingkah laku yang mencari tujuan dan yang berkembang karena adanya tujuan – tujuan. Motivasi adalah proses menggiatkan, mempertahankan, dan mengarahkan tingkah laku pada suatu tujuan tertentu (Huffman, Verniy, & Vernoy, 1997). Kegiatan organism dalam tingkah laku yang mencari tujuan mengakibatkan proses belajar memiliki tingkat yang berbeda – beda, sebab melalui kegiatan tingkah laku diubah ketingkat yang lebi htinggi atau rendah dan setiap perubahan yang terjadi melalui respons terhadap situasi dapat didefinisikan sebagai belajar.

 

INSTING
Pada awal abad ke -20, umumnya orang beranggapan bahwa kekuatan – kekuatan pendorong primer pada tingkah laku manusia adalah insting – insting. Misalnya, Mc Dougall menyatakan dalam bukunya “ An Introduction to Social Psychology” pada tahun 1926 bahwa kekuatan – kekuatan pendorong yang esensial dari pikiran dan tindakan adalah bawaan. Ia membuat daftar beberapa insting khusus seperti pelarian diri, rasa ingin tahu, suka berkelahi, pembiakan, keinginan untuk mencapai sesuatu.

Sayangnya istilah insting telah dipakai dengan berbagai arti. Defines klasiknya ialah suatu pola tingkah laku yang terorganisasi dan kompleks yang merupaka cirri khas dari makhluk tertentu pada situasi khusus, tidak dipelajari, dan tidak berubah. Pada manusia, semua tingkah laku dipengaruhi ole belajar. Juga pada binatang – binatang yang lebih rendah, kegiatan instingtif dipengaruhi oleh lingkungan.

 

DORONGAN (Drive) atau KEBUTUHAN (Need)
Dorngan (Drive) adalah munculnya kecenderungan bereaksi yang menimbulkan kegiatan – kegiatan dan tetap mempertahankan kegiatan – kegiatan itu dalam organism. Dorongan itu bisa besar atau kecil tergantung pada kekuatan stimulus. Dorongan itu ada dua macam yakni dorongan primer (Primary Drives) dan dorongan sekunder (Secondary Drives). Dorongan Primer adalah dorongan fisiologis sedangkan Dorongan Sekunder adalah dorongan social.

 

MOTIF (Motive)
Kebutuhan seperti yang dikatakan diatas merupakan suatu kekurangan umum yang menimbulkan satu motif atau lebih. Motif adalah suatu proses yang agak spesifik dan yang telah dipelajari. Motif itu diarahkan pada suatu tujuan. Jumlah motif sangat banyak sedangkan jumlah kebutuhan sangat sedikit sampai – sampai beberapa ahli teori merduksinya menjadi satu.

EMPAT PENJELASAN MOTIVASI

SIGMUND FREUD
Freud mengatakan dalam bukunya “Outline of Psychoanalysis”. Ia mendasarkan teori motivasi pada adanya insting – insting :
“ kekuatan – kekuatan yang kami anggap ada dibelakang tegangan – tegangan yang disebabkan oleh kebutuhan – kebutuhan id disebut insting – insting. Insting – insting itu merupakan tuntutan – tuntutan somatic terhadap kehidupan mental … insting – insting adalah penyebab terakhir dari segala kegiatan … ada kemungkinan membedakan insting – insting yang jumlahnya tidak pasti dan biasanya ini memang dilakukan. Tetapi bagi kami muncul pertanyaan yang penting : apakah kami tidak dapat memperoleh bermacam – macam insting ini dari beberapa insting yang fundamental. Kami telah mengetahui bahwa insting – insting ini dapat mengubah sasarannya (dengan pemindahan) dan juga saling menggantikan – energy dari satu insting pindah ke yang lain. Proses yang kedua ini masih belum cukup dipahami. Setelah lama ragu – ragu dan bimbang kami telah memutuskan untuk menerima adanya dua insting dasar yaitu Eros dan insting perusak”.

Eros adalah insting hidup atau insting erotic yan gmencakup semua impuls seksual dan juga dorongan untuk memelihara diri sendiri. Sebaliknya insting perusak merupakan keinginan untuk merusak, bahkan merusak diri sendiri dengan kematian. Brill menjelaskan bahwa fungsi dari insting hidup atau Eros adalah menghasilkan hidup dengan menyatukan partikel – partikel kehidupan atau sel – sel benih. Sedangkan fungsi insting mati adalah membuat bahan organic yang hidup berbalik pada keadaan semula tanpa hidup atau organic.

 

ALFRED ADLER
Adler adalah seorang monis karena ia menekankan perjuangan akan superioritas. Adler berpendapat bahwa hanya ada satu dorongan dasar yakni hasrat untuk berkuasa. Lebih lanjut Adler mengatakan bahwa perasaan inferioritas, tidak adekuat, dan tidak aman menentukan tujuan hidup seorang individu (Adler, 1927). Ia berpendapat bahwa keamanan dari bahaya saja tidak cukup, individu memerlukan batas keselamatan yang dicapai dengan dominasi dan suprioritas. Dengan kata lain, perjuangan akan prestasi dan status seusngguhnya merupakan perkembangan kebutuhan fundamental akan keamanan.

 

COMBS & SNYGG
Mereka mengatakan bahwa psikologi memiliki dua frame of reference yang umum. Dalam frame of reference ini, para psikolog mengamati subjek – subjek dalam berbagai situasi dan berusaha menjelaskan tingkah laku subjek – subjek tersebut menurut situasi yang diberi reaksi mereka. Penyebab – penyebab tingkah laku ditetapkan untuk segi – segi lingkungan yang mendapat reaksi subjek – subjek tersebut. Kemudian mereka berbicara tentang frame of reference kedua yang sangat penting dan disebut pendekatan perseptual atau fenomenologis. Fenomenologi adalah suatu istilah teknis untuk metode filsafat yang dimasukkan kedalam psikologi oleh Hussel pada tahun 1900. Metode ini menekankan pengalaman langsung dan bentuk pengalaman tersebut.

 

Kebutuhan ini (perasaan adekuat) memliki dua ciri khas yang pokok: pemeliharaan diri (the maintenence of the self ) dan peningkatan diri (the enchancement of the self). Dalam pemeliharaan diri, tentu saja perlu memelihara keseimbangan fisik bagian dalam (internal). Kebutuhan – kebutuhan fisiologis harus dipuaskan. Apabila salah satu (atau lebih) dari kebutuhan – kebutuhan sampai batas – batas tertentu tidak dipuaskan, maka orang yang tidak mengalami kepuasan itu akan memusatkan seluruh perhatiannya untuk memuaskan. Individu sangat memperhatikan usaha untuk memelihara dirinya seperti yang diamatinya. Sesuai dengan kebutuhan ini, ini ia memilih dari medan perseptualnya segi – segi yang sangat berarti baginya, yang memperkuat gambaran tentang dirinya sendiri. Prinsip ini berlaku bagi orang – orang yang memiliki konsep diri yang positif. Misalnya, ada kasus mengenai seorang mahasiswa yang sangat pintar yang datang ke bagian konseling karena ia memiliki perasaan yang tidak adekuat. Ia merasa yakin kemampuan intelektualnya diatas rata – rata. Konselor yang berpikir untuk meyakinkannya kembali, menyajikan kepadanya tes intelegensi dan menemukan bahwa kemampuan intelektualnya berada pada 99% menurut ukuran mahasiswa perguruan tinggi. Tetapi ketika hal itu disampaikan padanya, ia segera menolaknya dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan tidak benar, bahwa konselor mengadakan tes tersebut secara tidak tepat dan itu dilakukan supaya konselir merasa lebih enak. Meskipun reaksi mahasiswa tersebut demikian dan ini merupakan manifestasi dari keinginan untuk memelihara gambaran dirinya, namun hendaknya diperhatikan bahwa ia datang ke bagian konseling itu karena merasa tidak adekuat. Disatu pihak, ia ingin memelihara (mempertahankan) dirinya, tetapi dilain pihak ia ingin meningkatkan dirinya. Inilah tipe konflik yang mungkin dialami banyak orang.

 

Seperti dikatakan oleh Combs and Snygg, medan preseptual setiap orang adalah stabil dan mudah bergerak serta berpindah. Medan preseptual itu stabil karena begitu teratur dan dapat diramalkan. Dalam pada itu juga medan preseptual itu adalah cair, karena senantiasa berubah, jadi memungkinkan perubahan – perubahan dalam tingkah laku. Teori motivasi yang dikemukakan Combs and Snygg mengandung banyak hal yang patut diberi ulasan. Melalui konsep diri fenomenal, mereka berhasil menjalin hubungan yang sangat penting antara stimulus – stimulus dari situasi luar yang langsung, kenangan – kenangan masa lampau yang berhubungan dengan situasi langsung itu, dan sifat serta kondisi dari fisik pada saat situasi itu dialami.

 

Orang yang bertingkah laku itu tidak hanya menjalani hidup dengan memberikan respons terhadap insting – instingnya dan juga tidak memberikan respons secara otomatis terhadap stimulus dari luar. Memang tingkah lakunya itu ada penyebabnya, tetapi penyebabnya itu ditentukan oleh medan fenomenal.

 

Abraham Maslow
Teori motvasi Maslow, seperti dikatakannya, ada “dalam tradisi fungsionalis Dewey, dan dipadukan dengan holisme Wertheimer, Goldstein, dan psikologi Gestalt serta dinamisme Freud dan Adler”. Meskipun ia bukan seorang femenolog seperti Combs abd Snygg, namun teorinya memiliki banyak persamaan dengan teori mereka. Maslow menekankan bahwa individu harus dilihat sebagai satu keseluruhan. Orang yang seluruhnya dimotivasi, bukan hanya sebagian. Maslow mengemukakan konsep, “hierarki prapotensi” (hierarchies of prepotency), yang berarti bahwa suatu kebutuhan yang tingkatannya lebih tinggi tidak bisa muncul sebelum kebutuhan yang lebih prapoten dipuskan.

 

Maslow selanjutnya menunjukan bahwa biasanya seseorang untuk sebagiannya tidak sepenuhnya dipuaskan, atau kalau dikatakan sebaliknya, biasanya sebagian dirinya tidak dipuaskan dalam semua kebutuannya. Kepuasan sebagian adalah suatu keadan normal dari usaha – usaha manusia yang belajar menyesuaikan diri. Dalam pandangan maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasikan diri. Tetapi untuk mencapai kebutuhan aktualisasi diri itu (yang dalam pandangan Maslow merupakan kebutuhan yang tertinggi) masih ada kebutuhan – kebutuhan lain yang sebelumnya harus dipenuhi.

 

Jadi, prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada pada tingkat yang lebih rendah: (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan akan rasa aman, (3) kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, (4) kebutuhan akan penghargaan.

1. Kebutuhan fisiologis.
Kebutuhan-kebutuhn ini merupakan titik tolak untuk motivasi. Kebutuhan untuk mempertahankan kesejahteraan fisik dan untuk memuaskan tegangan – tegangan yang disebabkan oleh lapar, haus, seks, letih, sakit fisik dan kurang tidur merupakan kebutuhan – kebutuhan fisiologis.

 

2. Kebutuhan akan rasa aman.
Apabila kebutuhan – kebutuhan fisiologis telah dipuaskan, maka muncul kebutuhan – kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan – kebutuhan ini juga berperan dan dominan, tetapi tidak begitu kuat jika dibandingkan dengan kebutuhan – kebutuhan fisiologis.

 

3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki.
Apabila kebutuhan – kebutuhan fisiologis dan rasa aman, dipenuhi, maka kebutuhan cinta dan memiliki akan muncul. Kebutuhan akan cinta sangat terasa apabila anak – anak, kekasih dan suami istri tidak ada. Kebutuhan akan memiliki terlaksana apabila kita menggabungkan diri dengan suatu kelompok atau perkumpulan, menerima nilai – nilai dan sifat – sifat atau memakai seragamnya dengan maksud supaya merasakan perasaan memiliki. Maslow berpendapat bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan cinta dan memiliki karena mobilitas kita.

 

4. Kebutuhan akan penghargaan.
Apabila kita cukup berhasil mencintai dan memiliki, maka kita membutuhkan penghargaan. Maslow membedakan dua macam kebutuhan akan penghargaan: penghargaan yang berasal dari orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri. Penghargaan dari orang lain adalah yang utama. Penghargaan berasal dari luar dapat berdasarkan reputasi, kekaguman, status, popularitas, prestise, dan keberhasilan dalam masyarakat, semua sifat dari bagaimana orang – orang lain berpikir dan bereaksi terhadap kita.

 

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.
Apabila kebutuhan – kebutuhan sebelumnya sudah dipuaskan, maka individu didorong oleh kebutuhan paling tinggi, yakni kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini diungkapkan oleh guru ketika ia mengajar, oleh seniman ketika ia melukis, oleh pemusik ketika ia memainkan musiknya, oleh dokter ketika ia menyembuhkan penyakit pasiennya, oleh ibu rumah tangga yang berhasil mengelola kehidupan rumah tangganya. Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita. Maslow mengungkapkan lagi tingkat kedua dari kebutuhan – kebutuhan yang beroprasi sebagai tambahan pada tingkat pertama. Kebutuan – kebutuhan pada tingkat kedua, juga yang dibawa sejak lahir, adalah kebutuhan untuk mengetahui dan untuk memahami.

 

Frustrasi dan konflik
Frustrasi dan konflik adalah pengalaman – pengalaman individual yang merupakan bagian dari kehidupan sehari – hari keduanya berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan manusia, dan mengganggu ungkapan – ungkapan normal dari kecendrungan manusia.

 

Ada dua sumber utama frustrasi: sumber yang berasal dari luar (situasi – situasi dari luar) dan sumber yang berasal dari dalam (dinamika batiniah orang itu sendiri). Frustrasi – frustrasi yang berasal dari dalam mungkin disebabkan oleh faktor – faktor fisik dan perbedaan intelektual. Faktor fisik mungkin berupa rintangan organik atau penyakit. Frustrasi yang disebabkan oleh situasi – situasi dari luar tidak dapat dihindari. Termasuk disini: 1) adat kebiasaan atau peraturan – peraturan masyarakat yang membendung kebutuhan – kebutuhan dan keinginan – keinginan individu, 2) hal yang menganggu, lebih – lebih yang berhubungan dengan kepentingan dan cara hidup individu yang sudah biasa, dan 3) kondisi sosio-ekonomis yang menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar jasmaniah individu.

 

Toleransi terhadap frustrasi adalah kemapuan individu untuk menahan penundaan, rintangan, atau konflik tanpa menggunakan tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri atau menderita disorganisasi kepribadian. Suatu situasi yang dapat menyebabkan frustrasi juga akan berbeda – beda artinya bagi kita tergantung pada apakah kita berpendapat bahwa hal itu disebabkan oleh beberapa pengaruh dari luar yang kurang atau sama sekali tidak dapat dikontrol, atau apakah kita berpendapat bahwa kita sendirilah yang telah menyebabkan munculnya frustrasi dengan perbuatan – perbuatan kita sendiri. Jika kita datang terlambat ke sekolah mungkin sekali sekali kita merasa jauh lebih enak apabila penyebab dari keterlambatan kita itu adalah kemacetan lalu lintas dan bukan karena bangun terlambat. Jika penyebab dari peristiwa yang menimbulkan frustrasi itu adalah pengaruh dari luar yang bukan tanggung jawab kita, maka kita tidak merasa bersalah mengenai peristiwa tersebut.

 

Konflik sama seperti frustrasi merupakan pengalaman individu dan selalu menimbulkan tegangan emosi. Konflik adalah tegangan dalam diri kita apabila kita berusaha mencapai keputusan yang memuaskan terhadap situasi yang sama menariknya atau juga situasi yang sama tidak menariknya. Atau dapat juga dikatakan keadaan jiwa yang tegang sebagai akibat dari bentrokan antara motivasi – motivasi yang bertentangan. Seseorang akan mengalami sedikit konflik apabila ia mengadakan penyesuaian diri. Seringkali konflik ini bisa ringan dan bersifat sementara. Tetapi jika ia harus memilih antara dua respons yang berlawanan, maka konflik tersebut mungkin berat dan bertahan lama. Hal ini mengakibatkan situasi tertentu yang mungkin menyebabkan konflik pada orang lain. Konflik itu biasanya berakhir dengan frustrasi dan banyak tegangan yang diakibatkanya menjadi faktor dinamik yang berfungsi sebagai faktor yang berlangsung menetukan penyesuaian diri dan kesehatan mental seseorang.

 

Psikoanalisis menekankan pentingnya konflik dalam kehidupan seseorang individu. Kekuatan yang terlibat dalam konflik itu disebut id, ego dan superego. Menurut Freud, id tidak memiliki organisasi dan kesatuan kemauan, ia hanya memiliki impuls untuk mencapai kepuasan akan kebutuhan instingtif sesuai dengan prinsip kenikmatan. Id tidak mengetahui nilai, yang baik dan buruk, moralitas. Sebaliknya, superego didefinisikan Freud sebagai wakil dari semua larangan moral, penyokong impuls ke arah kesempurnaan, pendeknya seperti kita pahami secara psikologis tentang apa yang disebut orang hal – hal yang “lebih tinggi” dalam kehidupan manusia.
Tegangan emosi adalah suatu perasaan tertekan atau menggelisahkan. Tegangan emosi merupakan respons badaniah terhadap frustrasi atau konflik yang dialami individu selama selang waktu antara motivasi dan respons yang berhasil. Oleh karena itu, tegangan emosi mempertahankan motif yang ada pada saat itu, dan berfungsi sebagai dorongan untuk menemukan pencerahannya. Emosi yang ringan berupa perasaan, suasana hati, minat, sikap dan prasangka. Emosi ringan ini hanya berbeda dalam derajatnya dengan emosi yang kuat. Bentuk – bentuk emosi yang ringan ini juga mempengaruhi tangkah laku dengan mengurangi atau meningkatkan kapasitas individu untuk melaksanakan sesuatu secara efektif.

 

Gangguan – gangguan fisiologis yang menyertai emosi bersifat tidak sengaja dan tidak berada dalam kontrol ketika mempengaruhi fungsi dari struktur internal. Ada bermacam – macam perubahan fisiologis yang terjadi bersamaan dengan emosi. Pengalaman emosi anak merupakan faktor dasar dalam pembentukan kepribadianya. Sebagai seorang bayi, dunianya begitu terbatas dan sangat banyak berurusan dengan hal – hal yang berada di dekatnya dan yang segera memuaskan kebutuhan – kebutuhanya.

 

Kematangan Emosi
Kematangan emosi merupakan unsur yang penting bagi penyusaian diri dan kesehatan mental, maka orang harus memperhatikan segi kepribadaiannnya dalam proses perkembangan kematangan emosi mengacu pada kapasitas seseorang untuk beriaksi dalam berbagai situasi kehidupan dengan cara – cara yang lebih bermanfaat dan bukan dengan cara – cara beriaksi seorang anak.

Ciri kematangan Emosi :
1. Dapat mengontrol emosi.
2. Memberikan respon emosianal sesuai dengan tingkat perkembangan seseorang.
3. Mampu menerima frustasi terhadap situasi yang menimbulkan situasi tanpa bereaksi. secara emosianal.
4. Mengembangkan sifat fleksibel.

Respon
Respon, reduksi tegangan, dan akibat dalam urutan penyusaian diri. Manusia mewarisi kapasitas untuk belajar, ia tidak mewarisi pola – pola tingkah laku kecuali reflek sederhana ia mewarisi otak tetapi tidak mewarisi informasi atau asosiasi mental.

Respon Terkondisi
Respon pengkondisian terjadi pada manuisa merupakan hal yang biasa dan dapat kita amati kita sering mengalami air liur kita penuh sewaktu menunggu makanan yang enak, banyak respon emosianal dapat juga di jelaskan dengan pengondisian terutama jika respon itu di pelajari selama masa bayi atau awal masa kanak – kanak.

Menghilangkan respon Terkondisi
Membuat situasi di mana objek ketakutan itu diasosiasikan dengan pengalaman yang menyenangkan. Suatu respon terkondisi dapat juga dihilangkan dengan mengulang stimulus buatan tanpa memberikan hadiah bagi respon tersebut.

 

Pengalaman – pengalaman traumatis
Individu telah mengalami suatu arauma, yang merupakan stimulus tak terkondisi memberikan respon pada tanda bahaya yang diasosiasikan yakni stimulus terkondisi, suatu pengalaman traumatis adalah guncangan emosional dengan sekurang – kurangnya untuk sementara waktu mengacaukan pengendalian normal dari individu.

 

Meneruskan Respon Terkondisi
Suatu respon terkondisi diperkuat dengan perkuatan (reinforcement) dan diperlemah (walaupun tidak dimusnahkan) dengan tidak diberi perkuatan. Respon terkondisi entah adaptif atau maladaptif, kemudian akan diteruskan jika respons tersebut mengandung tujuan tertentu bagi individu.

 

Insight (Pemahaman)
Insight sebagai persepsi tentang suatu arti secara tiba – tiba tanpa ada kaitannya dengan pengalaman sebelumnya. Insight adalah akibat dari pengalaman – pengalaman yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dalam situasi – situasi sebelumnya dan dari latar belakang langsung tingkah laku coba – coba. Jadi insight adalah melihat hubungan – hubungan baru, mengatur kembali factor – faktor yang terus menerus ada ke dalam suatu pola yang baru.

 

Belajar Uji Coba
Orang yang belajar berusaha melakukan gerakan, rupanya secara serampangan dan tidak mengenal hubungan antara gerakan – gerakan itu dengan hasil – hasil yang ingin dicapai. Gerakan – gerakan percobaan yang berhasil lebih sering diulangi dalam percobaan – percobaan berikutnya, dan gerakan – gerakan percobaan yang gagal lambat laun akan hilang.

 

Reduksi Tegangan
Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai reduksi tegangan bahwa tingakah laku yang dipilih diterima atau diinginkan masyarakat atau penyesuaian diri tersebut diinginkan oleh individu karena memberikan perasaan lega dalam jangka waktu yang lama. Tampaknya respon – respon yang mereduksikan tegangan mungkin bukan penyesuaian diri yang positif karena dalam masalah kesehatan mental. Umunya respon reduksi tegangan yang baik adalah respon yang memuaskan kebutuhan – kebutuhan individu karena respon tersebut mendorong pertumbuhannya dan menambah meskipun hanya sedikit saja aktualisasi diri.

 

Akibat – Akibat
Tahap terakhir dalam urutan penyesuaian diri adalah akibat – akibat yang berkaitan dengan masa yang akan datang dan juga masa sekarang karena individu cenderung mengulangi respon – respon yang mereduksikan tegangan.

 

Hukum Akibat
Menurut hukum akibat, apabila respon tertentu membawa hasil – hasil yang memuaskan, maka hubungannya diperkuat; tetapi apabila respon tertentu membawa hasil – hasil yang tidak memuaskan, maka hubungannya diperlemah. Setelah jangka waktu tertentu, individu memilih tingkah laku yang dihadiahi oleh keadaan – keadaan yang tidak menyenangkan. Hukum akibat memberi penekanan yang sama terhadap hadiah dan hukuman. Meskipun hadiah lebih efektif daripada hukuman dalam mempengaruhi arah tingkah laku, namun faktor waktu tidak boleh diabaikan dalam menilai potensi yang relatif dari kedua stimulus ini. Hukuman langsung mungkin akan lebih berpengaruh terhadap tindakan yang diambil dibandingkan dengan hukuman yang ditunggu lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s